Page 110
P. 110
108 Travel | Bromo
putri raja Majapahit, menyingkir bersama 1
5 Senses – Taste sang suami, Joko Seger, hingga ke kaki Gunung
Bromo. Di sinilah keduanya membangun
RIBS AND ARON RICE komunitas baru bersama sejumlah abdi setia
dan menamakan kelompok kecil itu “Tengger”,
penyatuan nama belakang mereka. Kawasan
Bromo’s culinary delights have ini kemudian menjadi komunitas Hindu yang
remained relatively obscure, paling in tersisa di timur Pulau Jawa.
comparison to its visual attractions,
but they are worth seeking out. Iga Kami menuju ke kaldera, berjalan hingga
Bromo (Bromo ribs), also known as iga ke kaki Gunung Bromo. Pura Luhur Poten
pasir (sand ribs), are a must-try when berdiri di sana. Ketika hari suci tiba, pura ini © Valentino Luis ; © Iuliia Shcherbakova / Shutterstock; © Happy Together/Shutterstock
visiting the region. This soup dish, menjadi sentra bagi penduduk Tengger untuk
with the option of cow or goat ribs, melakukan sejumlah ritual keagamaan, salah
is guaranteed to warm you up when satunya Yadnya Kasada.
the temperature plummets. Another
dish, aron rice, is made of white corn “Ritual Yadnya Kasada khusus dihelat untuk
and is served much like nasi campur mengenang Raden Kusuma, putra Roro Anteng
(mixed rice), along with side dishes dan Joko Seger yang mengorbankan dirinya demi
and vegetables. keberlangsungan keturunan Tengger,” terang
Kuswan, seorang penjual kembang Edelweiss di
Belum banyak yang tahu bahwa tangga menuju bibir kawah Gunung Bromo.
kawasan Bromo pun punya kuliner Saban hari, Kuswan datang membawa beberapa
khas. Iga Bromo atau iga pasir ikat Edelweiss dan kuda putihnya untuk
merupakan hidangan yang harus ditawarkan kepada pengunjung. “Bunga ini,
dicoba saat bertandang ke sana. Sup kami sebut Tana Layu, karena kembangnya
dari iga daging sapi atau kambing ini abadi, tak pernah layu,” katanya. 1 Offerings at the crater of Bromo volcano.
akan menghangatkan tubuh di tengah
temperatur dingin. Makanan lainnya, Meskipun Edelweiss di Bromo termasuk 2 In the middle of the sea of sand sits a Hindu temple called
Nasi Aron, adalah olahan jagung endemik dan berstatus dilindungi, namun Pura Luhur Poten.
putih, dihidangkan layaknya Nasi ada toleransi bagi warga Tengger sebab
Campur, bersama lauk serta sayuran. mereka juga menggunakannya untuk upacara
keagamaan. Bahkan lembaga resmi Taman Kendati bukanlah Taman Nasional terluas
Nasional setempat telah menggagas pendirian di Indonesia, namun Taman Nasional Bromo
desa-desa wisata Edelweiss di luar hutan yang Tengger Semeru mencakup banyak wilayah
membolehkan orang untuk memetik bunga administratif di Jawa Timur. Ada empat wilayah
bernama binomial Anaphalis javanica tersebut. kabupaten yang termasuk di dalamnya, yakni
Pasuruan, Malang, Lumajang dan Probolinggo.
Didominasi oleh rangkaian pegunungan, sekitar
15 gunung, semuanya menempati area seluas
50.276,3 ha ini. Yang paling terkenal tentu saja
Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
Perkenalan dengan Kuswan mengantarkan
kami menghabiskan sore di ladang bawang
keluarganya. Warga Tengger khususnya
di Kecamatan Sukapura, mayoritas bermata
pencaharian sebagai petani hortikultura
memanfaatkan kesuburan tanah vulkanis.
Selain bawang, sayur-mayur pun berlimpah.
“Dulu harus turun ke Probolinggo untuk jual
kalau musim panen, sekarang banyak pengepul
datang langsung, bahkan dari Pasuruan dan
Surabaya,” kata salah satu petani.
Pagi berikutnya, saya dan Nico bangun jam
02.30 dini hari, demi berangkat ke Penanjakan.
Jeep yang kami pesan sehari sebelumnya datang
menjemput dengan jumlah penumpang yang
sudah pas. Saat duduk di dalamnya, saya
menyadari cuma saya saja yang dari Indonesia!
Perjalanan dua jam ke Penanjakan kembali
melewati kaldera. Saya tidak ingat lagi dengan
saksama bagaimana jalurnya, sebab mata saya—
juga penumpang lain—kembali terkatup
2 melanjutkan tidur, meskipun sesekali terjaga
saat ban Jeep melindas jalan rusak.
putri raja Majapahit, menyingkir bersama 1
5 Senses – Taste sang suami, Joko Seger, hingga ke kaki Gunung
Bromo. Di sinilah keduanya membangun
RIBS AND ARON RICE komunitas baru bersama sejumlah abdi setia
dan menamakan kelompok kecil itu “Tengger”,
penyatuan nama belakang mereka. Kawasan
Bromo’s culinary delights have ini kemudian menjadi komunitas Hindu yang
remained relatively obscure, paling in tersisa di timur Pulau Jawa.
comparison to its visual attractions,
but they are worth seeking out. Iga Kami menuju ke kaldera, berjalan hingga
Bromo (Bromo ribs), also known as iga ke kaki Gunung Bromo. Pura Luhur Poten
pasir (sand ribs), are a must-try when berdiri di sana. Ketika hari suci tiba, pura ini © Valentino Luis ; © Iuliia Shcherbakova / Shutterstock; © Happy Together/Shutterstock
visiting the region. This soup dish, menjadi sentra bagi penduduk Tengger untuk
with the option of cow or goat ribs, melakukan sejumlah ritual keagamaan, salah
is guaranteed to warm you up when satunya Yadnya Kasada.
the temperature plummets. Another
dish, aron rice, is made of white corn “Ritual Yadnya Kasada khusus dihelat untuk
and is served much like nasi campur mengenang Raden Kusuma, putra Roro Anteng
(mixed rice), along with side dishes dan Joko Seger yang mengorbankan dirinya demi
and vegetables. keberlangsungan keturunan Tengger,” terang
Kuswan, seorang penjual kembang Edelweiss di
Belum banyak yang tahu bahwa tangga menuju bibir kawah Gunung Bromo.
kawasan Bromo pun punya kuliner Saban hari, Kuswan datang membawa beberapa
khas. Iga Bromo atau iga pasir ikat Edelweiss dan kuda putihnya untuk
merupakan hidangan yang harus ditawarkan kepada pengunjung. “Bunga ini,
dicoba saat bertandang ke sana. Sup kami sebut Tana Layu, karena kembangnya
dari iga daging sapi atau kambing ini abadi, tak pernah layu,” katanya. 1 Offerings at the crater of Bromo volcano.
akan menghangatkan tubuh di tengah
temperatur dingin. Makanan lainnya, Meskipun Edelweiss di Bromo termasuk 2 In the middle of the sea of sand sits a Hindu temple called
Nasi Aron, adalah olahan jagung endemik dan berstatus dilindungi, namun Pura Luhur Poten.
putih, dihidangkan layaknya Nasi ada toleransi bagi warga Tengger sebab
Campur, bersama lauk serta sayuran. mereka juga menggunakannya untuk upacara
keagamaan. Bahkan lembaga resmi Taman Kendati bukanlah Taman Nasional terluas
Nasional setempat telah menggagas pendirian di Indonesia, namun Taman Nasional Bromo
desa-desa wisata Edelweiss di luar hutan yang Tengger Semeru mencakup banyak wilayah
membolehkan orang untuk memetik bunga administratif di Jawa Timur. Ada empat wilayah
bernama binomial Anaphalis javanica tersebut. kabupaten yang termasuk di dalamnya, yakni
Pasuruan, Malang, Lumajang dan Probolinggo.
Didominasi oleh rangkaian pegunungan, sekitar
15 gunung, semuanya menempati area seluas
50.276,3 ha ini. Yang paling terkenal tentu saja
Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
Perkenalan dengan Kuswan mengantarkan
kami menghabiskan sore di ladang bawang
keluarganya. Warga Tengger khususnya
di Kecamatan Sukapura, mayoritas bermata
pencaharian sebagai petani hortikultura
memanfaatkan kesuburan tanah vulkanis.
Selain bawang, sayur-mayur pun berlimpah.
“Dulu harus turun ke Probolinggo untuk jual
kalau musim panen, sekarang banyak pengepul
datang langsung, bahkan dari Pasuruan dan
Surabaya,” kata salah satu petani.
Pagi berikutnya, saya dan Nico bangun jam
02.30 dini hari, demi berangkat ke Penanjakan.
Jeep yang kami pesan sehari sebelumnya datang
menjemput dengan jumlah penumpang yang
sudah pas. Saat duduk di dalamnya, saya
menyadari cuma saya saja yang dari Indonesia!
Perjalanan dua jam ke Penanjakan kembali
melewati kaldera. Saya tidak ingat lagi dengan
saksama bagaimana jalurnya, sebab mata saya—
juga penumpang lain—kembali terkatup
2 melanjutkan tidur, meskipun sesekali terjaga
saat ban Jeep melindas jalan rusak.

