Page 130
P. 130
128 Travel | Jeddah
1 1 Al-Anani mosque.
2 A tourist chasing grey doves at the Jeddah corniche.
3 A camel giving rides on the beach. © Nesrudheen Pariyarath / Shutterstock; © Victor Jiang / Shutterstock
2
Jeddah, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan
terakhir ibu seluruh umat manusia, Hawa, adalah kota modern
dan multikultural yang menarik, dengan beragam budaya
dan sejarah dari anak-anak bangsa yang dilahirkannya.
Saat hari mulai senja, saat suhu udara panas yang telah melewati jalan-jalan kuno di tulis TE Lawrence ‘of Arabia’ pada akhir
mulai mereda dan langit berubah jingga, Jeddah. Penjelajah dunia Ibnu Battuta tiba abad ke-19.
perlahan suara azan dari ratusan muazin di Jeddah tahun 1326, sementara Malcolm X
mengalun bagai simfoni memenuhi kota, datang ke kota ini pada 1964. Pandangan Pada masa itu orang-orang datang dengan
memanggil umat Islam untuk menjalankan Malcolm terhadap dunia berubah setelah menunggang unta atau menyeberangi laut.
salat. Jendela-jendela toko diturunkan, ia melihat keragaman rasial di Jeddah. Banyak yang akhirnya menetap sehingga
para pedagang kaki lima menutupi barang Nama kota itu sendiri berarti ‘Nenek’ dalam Jeddah berubah menjadi sebuah kota
dagangan mereka dan bergegas menuju bahasa Arab, yang menunjukkan bahwa multikultur. “Mereka menyebut kami
masjid terdekat, bergabung dengan jutaan makam Hawa ada di kota ini, meski kini ‘lemparan laut’. Perpaduan indah dari
ajnabi atau orang asing—baik yang sudah ditutup untuk umum. beragam budaya yang dihempaskan oleh
lama maupun pendatang baru, yang laut ke Jeddah,” ujar Ma’tar tertawa.
membuat Jeddah kian dinamis. Juga dikenal dengan sebutan ‘Pengantin
Laut Merah’, Jeddah terletak di sepanjang Kota migran
Kota pelabuhan terbesar di Kerajaan Arab jalur perdagangan kuno dan telah menerima “Nenek moyang ayah saya hijrah ke sini
Saudi ini telah menjamu jutaan Muslim dari kedatangan orang-orang asing, bahkan dari Afrika. Mereka menetap dan diberi
seluruh dunia sejak kemunculan Islam. sebelum Khalifah Utsman bin Affan kewarganegaraan saat Kerajaan Saudi
Sebagian besar rumah di sini terbuat dari menjadikannya pelabuhan laut resmi dibentuk.” Ma’tar adalah keturunan dari
alang-alang. Ada juga penginapan dari batu untuk kota suci Mekah pada 647 M. para migran di zaman dahulu, dan kini
dan lumpur dengan atap dari anyaman daun Jeddah dikelola oleh para pendatang baru,
palem yang berfungsi mengurangi panas pada “Saya suka Jeddah karena keragaman seperti orang-orang dari Bangladesh yang
malam hari. Banyak peninggalan kuno yang budayanya. Di sini Anda bisa bertemu menjaga kebersihan jalanannya dan sopir
membuktikan bahwa kota ini telah ada sejak orang-orang dari seluruh penjuru dunia,” taksi yang hampir semuanya orang Pakistan.
lama. Seperti lukisan prasejarah dan sebuah kata Mohammed Ma’tar, mahasiswa Teknik
tempat dengan kubah kuno nan megah yang Aeronautika di Universitas King Abdul Aziz, “Jadi, untuk berkeliling Jeddah, Anda harus
dibangun sebagai penanda bahwa Hawa, ibu Jeddah. Apa yang dikatakannya memang bisa berkomunikasi dengan bahasa Urdu,
umat manusia, pernah tinggal di sana dalam benar, karena berbeda dengan Mekah dan bukan Arab,” gurau Ma’ tar.
perjalanannya menuju Mekah. Madinah, Jeddah dapat diakses oleh semua
orang, termasuk non-Muslim. “Kota putih ini “Anak-anak di Jeddah diajari bahasa
Musafir abad ke-12, Ibnu Jubayr adalah salah berdiri di antara langit terik dan laguna Inggris oleh para guru dari Inggris,
satu dari daftar panjang orang-orang besar fatamorgana yang memantulkan refleksinya,” Australia dan Amerika Serikat, dan jika
1 1 Al-Anani mosque.
2 A tourist chasing grey doves at the Jeddah corniche.
3 A camel giving rides on the beach. © Nesrudheen Pariyarath / Shutterstock; © Victor Jiang / Shutterstock
2
Jeddah, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan
terakhir ibu seluruh umat manusia, Hawa, adalah kota modern
dan multikultural yang menarik, dengan beragam budaya
dan sejarah dari anak-anak bangsa yang dilahirkannya.
Saat hari mulai senja, saat suhu udara panas yang telah melewati jalan-jalan kuno di tulis TE Lawrence ‘of Arabia’ pada akhir
mulai mereda dan langit berubah jingga, Jeddah. Penjelajah dunia Ibnu Battuta tiba abad ke-19.
perlahan suara azan dari ratusan muazin di Jeddah tahun 1326, sementara Malcolm X
mengalun bagai simfoni memenuhi kota, datang ke kota ini pada 1964. Pandangan Pada masa itu orang-orang datang dengan
memanggil umat Islam untuk menjalankan Malcolm terhadap dunia berubah setelah menunggang unta atau menyeberangi laut.
salat. Jendela-jendela toko diturunkan, ia melihat keragaman rasial di Jeddah. Banyak yang akhirnya menetap sehingga
para pedagang kaki lima menutupi barang Nama kota itu sendiri berarti ‘Nenek’ dalam Jeddah berubah menjadi sebuah kota
dagangan mereka dan bergegas menuju bahasa Arab, yang menunjukkan bahwa multikultur. “Mereka menyebut kami
masjid terdekat, bergabung dengan jutaan makam Hawa ada di kota ini, meski kini ‘lemparan laut’. Perpaduan indah dari
ajnabi atau orang asing—baik yang sudah ditutup untuk umum. beragam budaya yang dihempaskan oleh
lama maupun pendatang baru, yang laut ke Jeddah,” ujar Ma’tar tertawa.
membuat Jeddah kian dinamis. Juga dikenal dengan sebutan ‘Pengantin
Laut Merah’, Jeddah terletak di sepanjang Kota migran
Kota pelabuhan terbesar di Kerajaan Arab jalur perdagangan kuno dan telah menerima “Nenek moyang ayah saya hijrah ke sini
Saudi ini telah menjamu jutaan Muslim dari kedatangan orang-orang asing, bahkan dari Afrika. Mereka menetap dan diberi
seluruh dunia sejak kemunculan Islam. sebelum Khalifah Utsman bin Affan kewarganegaraan saat Kerajaan Saudi
Sebagian besar rumah di sini terbuat dari menjadikannya pelabuhan laut resmi dibentuk.” Ma’tar adalah keturunan dari
alang-alang. Ada juga penginapan dari batu untuk kota suci Mekah pada 647 M. para migran di zaman dahulu, dan kini
dan lumpur dengan atap dari anyaman daun Jeddah dikelola oleh para pendatang baru,
palem yang berfungsi mengurangi panas pada “Saya suka Jeddah karena keragaman seperti orang-orang dari Bangladesh yang
malam hari. Banyak peninggalan kuno yang budayanya. Di sini Anda bisa bertemu menjaga kebersihan jalanannya dan sopir
membuktikan bahwa kota ini telah ada sejak orang-orang dari seluruh penjuru dunia,” taksi yang hampir semuanya orang Pakistan.
lama. Seperti lukisan prasejarah dan sebuah kata Mohammed Ma’tar, mahasiswa Teknik
tempat dengan kubah kuno nan megah yang Aeronautika di Universitas King Abdul Aziz, “Jadi, untuk berkeliling Jeddah, Anda harus
dibangun sebagai penanda bahwa Hawa, ibu Jeddah. Apa yang dikatakannya memang bisa berkomunikasi dengan bahasa Urdu,
umat manusia, pernah tinggal di sana dalam benar, karena berbeda dengan Mekah dan bukan Arab,” gurau Ma’ tar.
perjalanannya menuju Mekah. Madinah, Jeddah dapat diakses oleh semua
orang, termasuk non-Muslim. “Kota putih ini “Anak-anak di Jeddah diajari bahasa
Musafir abad ke-12, Ibnu Jubayr adalah salah berdiri di antara langit terik dan laguna Inggris oleh para guru dari Inggris,
satu dari daftar panjang orang-orang besar fatamorgana yang memantulkan refleksinya,” Australia dan Amerika Serikat, dan jika

