Page 86
P. 86
84 Explore | Flavours




1
© Ariyani Tedjo / Shutterstock
Orang-orang Tionghoa tempo dulu di Indonesia juga
cukup inovatif mengolah hidangan pencuci mulut.




Kemahiran orang-orang Tionghoa soal Kedai Kopi Tak Kie yang bertengger di
meracik makanan sempat mendapat pengaruh sela-sela sempitnya Gang Gloria, Glodok,
dari Belanda. Wedang ronde misalnya, meski adalah bukti keunikan perantau Tiongkok
menggunakan bahan sesuai resep leluhur dari dalam meracik minuman. Kedai sederhana
Tiongkok, namun akulturasi Belanda tetap ini hanya menawarkan dua jenis kopi, yaitu
tak bisa dipisahkan. Hidangan yang aslinya kopi susu dan kopi hitam yang keduanya
bernama tang yuan ini awalnya dibuat khusus disajikan dengan es dan gelas tinggi, bukan
untuk menyambut perayaan Dongzhi Festival. dengan cangkir cantik. Namun
kesederhanaan ini mampu merebut hati para
2 Hidangan yang terbuat dari tepung ketan pencinta kopi meski warga Tiongkok pada
berbentuk bola-bola mungil ini dihidangkan umumnya lebih mengenal budaya minum
dengan kuah yang awalnya hanya berupa air. teh daripada kopi. “Ini soal rasa!” ungkap
Tang yuan kemudian disebut rondje oleh A Yauw, pengelolanya.
orang Belanda, mengingat bentuknya yang
bulat (rond, dalam bahasa Belanda) dan Tak Kie sudah beroperasi sejak 1927. A Yauw,
kesulitan orang Eropa melafalkan tang yuan. pengelola kedai sederhana yang adalah cucu
dari pendiri Tak Kie ini menjagokan biji kopi
Namun bagi warga lokal, ronde tak cukup dari Lampung dan Sidikalang untuk kopi-kopi
hanya sekadar bola-bola tepung dan air. andalannya. Proses meraciknya pun sudah
Seiring waktu, ronde mulai berevolusi. Tak berjalan bertahun-tahun dengan berbagai
sekadar bola-bola tepung, namun juga diisi resep warisan keluarga. Untuk segelas es kopi
dengan kacang, gula jawa atau kacang hitam. misalnya, A Yauw menolak menggunakan
Kuahnya pun kini diperkaya dengan jahe dan teknik memasukkan es batu ke dalam kopi
gula, sehingga rasanya lebih kaya sehingga panas. Ia mendinginkan dulu kopi yang
dikenal dengan sebutan wedang ronde. dimasaknya di pagi hari dan kemudian baru
Ronde Mania Ibu Suhartini yang berlokasi di memasukkan es batu saat kopi sudah dingin.
Alun-alun Kidul adalah tempat favorit untuk “Es batu yang mencair karena panas akan
Fuyunghai, sebuah menu wajib di restoran menikmati wedang ronde di Yogyakarta. merusak rasa kopi,” terangnya.
masakan Tiongkok yang tersebar di seluruh Sementara bila pelesiran ke Malang, Ronde
penjuru negeri. Fuyunghai diyakini memiliki Titoni bisa menjadi pilihan. Kedai Tak Kie terbilang cukup sederhana
hubungan dengan omelette dari Barat. dengan desain interior yang khas. Area
Awalnya menu ini berupa campuran telur, Di Indonesia, perkembangan makanan makannya cukup sempit tanpa pendingin
daging kepiting, bawang bombai dan Tiongkok tumbuh subur mulai dari pedagang ruangan, interiornya pun bernuansa tempo
beberapa bumbu lainnya yang dimasak kaki lima di pinggir jalan hingga restoran dulu dengan papan nama besar bertuliskan
dengan digoreng. Di negeri asalnya disebut elegan yang melegenda. Hampir di setiap “Kopi Es Tak Kie” yang disertai aksara
dengan fủ rỏng xiẻ yang artinya ‘kepiting sudut kota, dengan sangat mudah kita bisa Tiongkok. Tak Kie tidak menawarkan menu
berbunyi hai’. Dalam dialek Kanton dilafalkan merasakan kelezatan masakan Tiongkok makanan. Pengunjung bebas memesan
dengan fu yung hai. Kini fuyunghai tak hanya dengan selera lidah Indonesia. Restoran Trio makanan apa pun yang tersedia sepanjang
mengandalkan daging kepiting untuk isinya. contohnya, yang telah memulai debutnya Gang Gloria, seperti babi kecap, bakut, nasi
Selain daging ayam, fuyunghai juga biasanya dua tahun setelah Indonesia merdeka ini campur, nasi tim, mi ayam, rujak juhi hingga
diisi dengan banyak macam sayuran. Tempat mengoleksi sekitar 300 macam makanan masakan lokal yang diolah dengan pengaruh
terbaik di Jakarta untuk menikmatinya adalah Peranakan yang terpampang di buku kuat tata cara memasak dan bumbu khas
di Restoran Trio yang berada di daerah Cikini. menunya. Andalannya adalah ayam nanking. Peranakan seperti soto dan gado-gado.

Tak hanya soal meracik makanan utama, Effendy, generasi kedua yang mengelola Pendatang dari Tiongkok selama berabad-
orang-orang Tionghoa tempo dulu yang restoran legendaris ini membisikkan abad telah mengukir sejarah yang panjang,
menetap di Indonesia juga cukup inovatif rahasia kesuksesan Restoran Trio pada kami. khususnya dalam ilmu tata boga di
mengolah hidangan pencuci mulut. Saat “Untuk jadi pemilik restoran, Anda harus Indonesia. Pengaruhnya yang bisa dirasakan
orang-orang Belanda memperkenalkan toetje paham seni memasak. Tak bisa hanya dalam kuliner Indonesia hingga kini adalah
(hidangan pencuci mulut) di meja makan andalkan koki,” ungkapnya. hasil pembelajaran dua arah selama
mereka, orang-orang Tionghoa lalu berinisiatif berabad-abad, di mana para perantau
menciptakan toetje sendiri dengan bahan Restoran Tiongkok Peranakan yang penuh Tiongkok juga akhirnya mahir meracik
santan dan gula yang kemudian dikenal nostalgia dan cerita lainnya adalah restoran masakan leluhurnya dengan limpahan
dengan sebutan es puter. Teknik produksinya Cahaya Kota yang telah berdiri sejak tahun bumbu yang ada di Nusantara.
pun sangat sederhana, yaitu dengan memutar 1943 berlokasi di Jalan K.H. Wahid Hasyim,
tempat pembuatan es di atas es batu yang Jakarta Pusat, hanya memiliki 100 menu
sudah digarami. Awalnya hanya berupa krim makanan khas Kanton. Lumpia udang 1 Wedang ronde, balls of glutinous
manis dari santan dan gula, kini es puter Shanghai, ayam goreng api, bebek saus rice flour served with warm soup.
kerap hadir di acara-acara perayaan dengan hoisin, ikan kakap ala Kanton dan kodok
beragam pilihan rasa dan sebagai menu batu sawi asin adalah menu andalan 2 Chocolate, candy, sweets and various
dagangan penjaja kaki lima yang cukup laris. yang disarankan. pastries sold in Gang Gloria.
   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90   91